Sehari Bersama Bapak
Bapakku
adalah seorang penjahit dan tukang service mesin jahit. Bahkan, bukan hanya
mesin jahit, apapun yang berhubungan dengan barang elektronik atau mesih pun
menjadi alat permainan dan hobi tersendiri baginya. Semua barang yang
membutuhkan sentuhan tangan untuk diperbaiki, akan dibongkar dengan rasa
penasarannya.
Bapakku
juga petualang pasar loak, berbagai kota yang pernah dikunjunginya pun yang
luput dari lokasi pasar loak berada. Barang apapun di pasar loak itu, Bapakku
bisa membanting miring harganya dengan gaya khas menawarnya, “nggak cocok
harga, tinggal!, tapi pelan-pelan, nunggu dipanggil sang penjual. Nah, kalau
tak terdengar ada panggilan, yasudah, mungkin bukan rejeki. Atau kalau memang
butuh ya terpaksa balik lagi hehehe.
Hari ini,
aku kembali ke kota perantauanku Surabaya bersama Bapak, naik motor. Kami sepakat
untuk gantian membonceng kalau merasa capek. Bukan apa-apa, tapi memang karena
kami kehabisan tiket kereta, dan tidak kuasa naik bus. Kami berangkat pukul 4
dan sholat Subuh di surau tepi jalan karena ingin menghindari macetnya jalanan
Kota Pahlawan selepas long weekend Idul
Adha. Bapak harus ke Surabaya karena membutuhkan alat untuk mesin-mesin yang
sedang diperbaikinya, dan alat itu tak bisa ditemuinya di semua toko di kawasan
Jombang.
Tibalah
kami pukul 6.28. Setelah mengantar ke kosku dan sarapan di warung sebelah, aku mengajukan
permintaan untuk menemaninya ke pasar. Karena ini akan menjadi pertama kalinya
aku “jalan-jalan keliling Surabaya” berama Bapak. Ya, akhirnya aku ditunjukkan
beberapa pasar loak yang memang menjadi tempat langganannya. Sesekali aku minta
berhenti dan menanyakan barang ini dan itu. Kami hanya menghabiskan waktu
berkeliling dan melihat-lihat sembari menunggu toko tujuan Bapak buka.
Berkali-kali
Bapak menawariku untuk membeli sesuatu yang kusuka atau kuperlukan. Dan berkali-kali
juga kubilang tidak perlu, sampai akhirnya aku sendiri yang minta untuk membeli
topi. Ya, topi warna navy yang bisa
kudapatkan dengan harga diskon 50% dari penjualnya yang bersungut-sungut mengiyakan
harga yang diminta Bapak.
Bukan hanya
di topi saja. Bapak berani membanting harga di semua penjual yang
dikunjunginya, termasuk toko yang menjual alat mesin. Bahkan, aku tak pernah
bisa menawar harga sampai 50%, antara tak tega, juga kemampuan menawarku yang
jelek.
Ya,
Bapakku memang sangat cuek dan dingin. Tetapi, di balik sifatnya itu, terselip
sikap sayang yang tak akan bisa ditebak bagaimana caranya. Romantis, lucu, dan
tak jarang bikin gemas. Bapak!
Sehari
bersama Bapak
Bapakku
adalah seorang penjahit dan tukang service mesin jahit. Bahkan, bukan hanya
mesin jahit, apapun yang berhubungan dengan barang elektronik atau mesih pun
menjadi alat permainan dan hobi tersendiri baginya. Semua barang yang
membutuhkan sentuhan tangan untuk diperbaiki, akan dibongkar dengan rasa
penasarannya.
Bapakku
juga petualang pasar loak, berbagai kota yang pernah dikunjunginya pun yang
luput dari lokasi pasar loak berada. Barang apapun di pasar loak itu, Bapakku
bisa membanting miring harganya dengan gaya khas menawarnya, “nggak cocok
harga, tinggal!, tapi pelan-pelan, nunggu dipanggil sang penjual. Nah, kalau
tak terdengar ada panggilan, yasudah, mungkin bukan rejeki. Atau kalau memang
butuh ya terpaksa balik lagi hehehe.
Hari ini,
aku kembali ke kota perantauanku Surabaya bersama Bapak, naik motor. Kami sepakat
untuk gantian membonceng kalau merasa capek. Bukan apa-apa, tapi memang karena
kami kehabisan tiket kereta, dan tidak kuasa naik bus. Kami berangkat pukul 4
dan sholat Subuh di surau tepi jalan karena ingin menghindari macetnya jalanan
Kota Pahlawan selepas long weekend Idul
Adha. Bapak harus ke Surabaya karena membutuhkan alat untuk mesin-mesin yang
sedang diperbaikinya, dan alat itu tak bisa ditemuinya di semua toko di kawasan
Jombang.
Tibalah
kami pukul 6.28. Setelah mengantar ke kosku dan sarapan di warung sebelah, aku mengajukan
permintaan untuk menemaninya ke pasar. Karena ini akan menjadi pertama kalinya
aku “jalan-jalan keliling Surabaya” berama Bapak. Ya, akhirnya aku ditunjukkan
beberapa pasar loak yang memang menjadi tempat langganannya. Sesekali aku minta
berhenti dan menanyakan barang ini dan itu. Kami hanya menghabiskan waktu
berkeliling dan melihat-lihat sembari menunggu toko tujuan Bapak buka.
Berkali-kali
Bapak menawariku untuk membeli sesuatu yang kusuka atau kuperlukan. Dan berkali-kali
juga kubilang tidak perlu, sampai akhirnya aku sendiri yang minta untuk membeli
topi. Ya, topi warna navy yang bisa
kudapatkan dengan harga diskon 50% dari penjualnya yang bersungut-sungut mengiyakan
harga yang diminta Bapak.
Bukan hanya
di topi saja. Bapak berani membanting harga di semua penjual yang
dikunjunginya, termasuk toko yang menjual alat mesin. Bahkan, aku tak pernah
bisa menawar harga sampai 50%, antara tak tega, juga kemampuan menawarku yang
jelek.
Ya,
Bapakku memang sangat cuek dan dingin. Tetapi, di balik sifatnya itu, terselip
sikap sayang yang tak akan bisa ditebak bagaimana caranya. Romantis, lucu, dan
tak jarang bikin gemas. Bapak!
Sehari
bersama Bapak
Bapakku
adalah seorang penjahit dan tukang service mesin jahit. Bahkan, bukan hanya
mesin jahit, apapun yang berhubungan dengan barang elektronik atau mesih pun
menjadi alat permainan dan hobi tersendiri baginya. Semua barang yang
membutuhkan sentuhan tangan untuk diperbaiki, akan dibongkar dengan rasa
penasarannya.
Bapakku
juga petualang pasar loak, berbagai kota yang pernah dikunjunginya pun yang
luput dari lokasi pasar loak berada. Barang apapun di pasar loak itu, Bapakku
bisa membanting miring harganya dengan gaya khas menawarnya, “nggak cocok
harga, tinggal!, tapi pelan-pelan, nunggu dipanggil sang penjual. Nah, kalau
tak terdengar ada panggilan, yasudah, mungkin bukan rejeki. Atau kalau memang
butuh ya terpaksa balik lagi hehehe.
Hari ini,
aku kembali ke kota perantauanku Surabaya bersama Bapak, naik motor. Kami sepakat
untuk gantian membonceng kalau merasa capek. Bukan apa-apa, tapi memang karena
kami kehabisan tiket kereta, dan tidak kuasa naik bus. Kami berangkat pukul 4
dan sholat Subuh di surau tepi jalan karena ingin menghindari macetnya jalanan
Kota Pahlawan selepas long weekend Idul
Adha. Bapak harus ke Surabaya karena membutuhkan alat untuk mesin-mesin yang
sedang diperbaikinya, dan alat itu tak bisa ditemuinya di semua toko di kawasan
Jombang.
Tibalah
kami pukul 6.28. Setelah mengantar ke kosku dan sarapan di warung sebelah, aku mengajukan
permintaan untuk menemaninya ke pasar. Karena ini akan menjadi pertama kalinya
aku “jalan-jalan keliling Surabaya” berama Bapak. Ya, akhirnya aku ditunjukkan
beberapa pasar loak yang memang menjadi tempat langganannya. Sesekali aku minta
berhenti dan menanyakan barang ini dan itu. Kami hanya menghabiskan waktu
berkeliling dan melihat-lihat sembari menunggu toko tujuan Bapak buka.
Berkali-kali
Bapak menawariku untuk membeli sesuatu yang kusuka atau kuperlukan. Dan berkali-kali
juga kubilang tidak perlu, sampai akhirnya aku sendiri yang minta untuk membeli
topi. Ya, topi warna navy yang bisa
kudapatkan dengan harga diskon 50% dari penjualnya yang bersungut-sungut mengiyakan
harga yang diminta Bapak.
Bukan hanya
di topi saja. Bapak berani membanting harga di semua penjual yang
dikunjunginya, termasuk toko yang menjual alat mesin. Bahkan, aku tak pernah
bisa menawar harga sampai 50%, antara tak tega, juga kemampuan menawarku yang
jelek.
Ya,
Bapakku memang sangat cuek dan dingin. Tetapi, di balik sifatnya itu, terselip
sikap sayang yang tak akan bisa ditebak bagaimana caranya. Romantis, lucu, dan
tak jarang bikin gemas. Bapak!
Sehari
bersama Bapak
Bapakku
adalah seorang penjahit dan tukang service mesin jahit. Bahkan, bukan hanya
mesin jahit, apapun yang berhubungan dengan barang elektronik atau mesih pun
menjadi alat permainan dan hobi tersendiri baginya. Semua barang yang
membutuhkan sentuhan tangan untuk diperbaiki, akan dibongkar dengan rasa
penasarannya.
Bapakku
juga petualang pasar loak, berbagai kota yang pernah dikunjunginya pun yang
luput dari lokasi pasar loak berada. Barang apapun di pasar loak itu, Bapakku
bisa membanting miring harganya dengan gaya khas menawarnya, “nggak cocok
harga, tinggal!, tapi pelan-pelan, nunggu dipanggil sang penjual. Nah, kalau
tak terdengar ada panggilan, yasudah, mungkin bukan rejeki. Atau kalau memang
butuh ya terpaksa balik lagi hehehe.
Hari ini,
aku kembali ke kota perantauanku Surabaya bersama Bapak, naik motor. Kami sepakat
untuk gantian membonceng kalau merasa capek. Bukan apa-apa, tapi memang karena
kami kehabisan tiket kereta, dan tidak kuasa naik bus. Kami berangkat pukul 4
dan sholat Subuh di surau tepi jalan karena ingin menghindari macetnya jalanan
Kota Pahlawan selepas long weekend Idul
Adha. Bapak harus ke Surabaya karena membutuhkan alat untuk mesin-mesin yang
sedang diperbaikinya, dan alat itu tak bisa ditemuinya di semua toko di kawasan
Jombang.
Tibalah
kami pukul 6.28. Setelah mengantar ke kosku dan sarapan di warung sebelah, aku mengajukan
permintaan untuk menemaninya ke pasar. Karena ini akan menjadi pertama kalinya
aku “jalan-jalan keliling Surabaya” berama Bapak. Ya, akhirnya aku ditunjukkan
beberapa pasar loak yang memang menjadi tempat langganannya. Sesekali aku minta
berhenti dan menanyakan barang ini dan itu. Kami hanya menghabiskan waktu
berkeliling dan melihat-lihat sembari menunggu toko tujuan Bapak buka.
Berkali-kali
Bapak menawariku untuk membeli sesuatu yang kusuka atau kuperlukan. Dan berkali-kali
juga kubilang tidak perlu, sampai akhirnya aku sendiri yang minta untuk membeli
topi. Ya, topi warna navy yang bisa
kudapatkan dengan harga diskon 50% dari penjualnya yang bersungut-sungut mengiyakan
harga yang diminta Bapak.
Bukan hanya
di topi saja. Bapak berani membanting harga di semua penjual yang
dikunjunginya, termasuk toko yang menjual alat mesin. Bahkan, aku tak pernah
bisa menawar harga sampai 50%, antara tak tega, juga kemampuan menawarku yang
jelek.
Ya,
Bapakku memang sangat cuek dan dingin. Tetapi, di balik sifatnya itu, terselip
sikap sayang yang tak akan bisa ditebak bagaimana caranya. Romantis, lucu, dan
tak jarang bikin gemas. Bapak!
Sehari
bersama Bapak
Bapakku
adalah seorang penjahit dan tukang service mesin jahit. Bahkan, bukan hanya
mesin jahit, apapun yang berhubungan dengan barang elektronik atau mesih pun
menjadi alat permainan dan hobi tersendiri baginya. Semua barang yang
membutuhkan sentuhan tangan untuk diperbaiki, akan dibongkar dengan rasa
penasarannya.
Bapakku
juga petualang pasar loak, berbagai kota yang pernah dikunjunginya pun yang
luput dari lokasi pasar loak berada. Barang apapun di pasar loak itu, Bapakku
bisa membanting miring harganya dengan gaya khas menawarnya, “nggak cocok
harga, tinggal!, tapi pelan-pelan, nunggu dipanggil sang penjual. Nah, kalau
tak terdengar ada panggilan, yasudah, mungkin bukan rejeki. Atau kalau memang
butuh ya terpaksa balik lagi hehehe.
Hari ini,
aku kembali ke kota perantauanku Surabaya bersama Bapak, naik motor. Kami sepakat
untuk gantian membonceng kalau merasa capek. Bukan apa-apa, tapi memang karena
kami kehabisan tiket kereta, dan tidak kuasa naik bus. Kami berangkat pukul 4
dan sholat Subuh di surau tepi jalan karena ingin menghindari macetnya jalanan
Kota Pahlawan selepas long weekend Idul
Adha. Bapak harus ke Surabaya karena membutuhkan alat untuk mesin-mesin yang
sedang diperbaikinya, dan alat itu tak bisa ditemuinya di semua toko di kawasan
Jombang.
Tibalah
kami pukul 6.28. Setelah mengantar ke kosku dan sarapan di warung sebelah, aku mengajukan
permintaan untuk menemaninya ke pasar. Karena ini akan menjadi pertama kalinya
aku “jalan-jalan keliling Surabaya” berama Bapak. Ya, akhirnya aku ditunjukkan
beberapa pasar loak yang memang menjadi tempat langganannya. Sesekali aku minta
berhenti dan menanyakan barang ini dan itu. Kami hanya menghabiskan waktu
berkeliling dan melihat-lihat sembari menunggu toko tujuan Bapak buka.
Berkali-kali
Bapak menawariku untuk membeli sesuatu yang kusuka atau kuperlukan. Dan berkali-kali
juga kubilang tidak perlu, sampai akhirnya aku sendiri yang minta untuk membeli
topi. Ya, topi warna navy yang bisa
kudapatkan dengan harga diskon 50% dari penjualnya yang bersungut-sungut mengiyakan
harga yang diminta Bapak.
Bukan hanya
di topi saja. Bapak berani membanting harga di semua penjual yang
dikunjunginya, termasuk toko yang menjual alat mesin. Bahkan, aku tak pernah
bisa menawar harga sampai 50%, antara tak tega, juga kemampuan menawarku yang
jelek.
Ya,
Bapakku memang sangat cuek dan dingin. Tetapi, di balik sifatnya itu, terselip
sikap sayang yang tak akan bisa ditebak bagaimana caranya. Romantis, lucu, dan
tak jarang bikin gemas. Bapak!
Sehari
bersama Bapak
Bapakku
adalah seorang penjahit dan tukang service mesin jahit. Bahkan, bukan hanya
mesin jahit, apapun yang berhubungan dengan barang elektronik atau mesih pun
menjadi alat permainan dan hobi tersendiri baginya. Semua barang yang
membutuhkan sentuhan tangan untuk diperbaiki, akan dibongkar dengan rasa
penasarannya.
Bapakku
juga petualang pasar loak, berbagai kota yang pernah dikunjunginya pun yang
luput dari lokasi pasar loak berada. Barang apapun di pasar loak itu, Bapakku
bisa membanting miring harganya dengan gaya khas menawarnya, “nggak cocok
harga, tinggal!, tapi pelan-pelan, nunggu dipanggil sang penjual. Nah, kalau
tak terdengar ada panggilan, yasudah, mungkin bukan rejeki. Atau kalau memang
butuh ya terpaksa balik lagi hehehe.
Hari ini,
aku kembali ke kota perantauanku Surabaya bersama Bapak, naik motor. Kami sepakat
untuk gantian membonceng kalau merasa capek. Bukan apa-apa, tapi memang karena
kami kehabisan tiket kereta, dan tidak kuasa naik bus. Kami berangkat pukul 4
dan sholat Subuh di surau tepi jalan karena ingin menghindari macetnya jalanan
Kota Pahlawan selepas long weekend Idul
Adha. Bapak harus ke Surabaya karena membutuhkan alat untuk mesin-mesin yang
sedang diperbaikinya, dan alat itu tak bisa ditemuinya di semua toko di kawasan
Jombang.
Tibalah
kami pukul 6.28. Setelah mengantar ke kosku dan sarapan di warung sebelah, aku mengajukan
permintaan untuk menemaninya ke pasar. Karena ini akan menjadi pertama kalinya
aku “jalan-jalan keliling Surabaya” berama Bapak. Ya, akhirnya aku ditunjukkan
beberapa pasar loak yang memang menjadi tempat langganannya. Sesekali aku minta
berhenti dan menanyakan barang ini dan itu. Kami hanya menghabiskan waktu
berkeliling dan melihat-lihat sembari menunggu toko tujuan Bapak buka.
Berkali-kali
Bapak menawariku untuk membeli sesuatu yang kusuka atau kuperlukan. Dan berkali-kali
juga kubilang tidak perlu, sampai akhirnya aku sendiri yang minta untuk membeli
topi. Ya, topi warna navy yang bisa
kudapatkan dengan harga diskon 50% dari penjualnya yang bersungut-sungut mengiyakan
harga yang diminta Bapak.
Bukan hanya
di topi saja. Bapak berani membanting harga di semua penjual yang
dikunjunginya, termasuk toko yang menjual alat mesin. Bahkan, aku tak pernah
bisa menawar harga sampai 50%, antara tak tega, juga kemampuan menawarku yang
jelek.
Ya,
Bapakku memang sangat cuek dan dingin. Tetapi, di balik sifatnya itu, terselip
sikap sayang yang tak akan bisa ditebak bagaimana caranya. Romantis, lucu, dan
tak jarang bikin gemas. Bapak!
Sehari
bersama Bapak
Bapakku
adalah seorang penjahit dan tukang service mesin jahit. Bahkan, bukan hanya
mesin jahit, apapun yang berhubungan dengan barang elektronik atau mesih pun
menjadi alat permainan dan hobi tersendiri baginya. Semua barang yang
membutuhkan sentuhan tangan untuk diperbaiki, akan dibongkar dengan rasa
penasarannya.
Bapakku
juga petualang pasar loak, berbagai kota yang pernah dikunjunginya pun yang
luput dari lokasi pasar loak berada. Barang apapun di pasar loak itu, Bapakku
bisa membanting miring harganya dengan gaya khas menawarnya, “nggak cocok
harga, tinggal!, tapi pelan-pelan, nunggu dipanggil sang penjual. Nah, kalau
tak terdengar ada panggilan, yasudah, mungkin bukan rejeki. Atau kalau memang
butuh ya terpaksa balik lagi hehehe.
Hari ini,
aku kembali ke kota perantauanku Surabaya bersama Bapak, naik motor. Kami sepakat
untuk gantian membonceng kalau merasa capek. Bukan apa-apa, tapi memang karena
kami kehabisan tiket kereta, dan tidak kuasa naik bus. Kami berangkat pukul 4
dan sholat Subuh di surau tepi jalan karena ingin menghindari macetnya jalanan
Kota Pahlawan selepas long weekend Idul
Adha. Bapak harus ke Surabaya karena membutuhkan alat untuk mesin-mesin yang
sedang diperbaikinya, dan alat itu tak bisa ditemuinya di semua toko di kawasan
Jombang.
Tibalah
kami pukul 6.28. Setelah mengantar ke kosku dan sarapan di warung sebelah, aku mengajukan
permintaan untuk menemaninya ke pasar. Karena ini akan menjadi pertama kalinya
aku “jalan-jalan keliling Surabaya” berama Bapak. Ya, akhirnya aku ditunjukkan
beberapa pasar loak yang memang menjadi tempat langganannya. Sesekali aku minta
berhenti dan menanyakan barang ini dan itu. Kami hanya menghabiskan waktu
berkeliling dan melihat-lihat sembari menunggu toko tujuan Bapak buka.
Berkali-kali
Bapak menawariku untuk membeli sesuatu yang kusuka atau kuperlukan. Dan berkali-kali
juga kubilang tidak perlu, sampai akhirnya aku sendiri yang minta untuk membeli
topi. Ya, topi warna navy yang bisa
kudapatkan dengan harga diskon 50% dari penjualnya yang bersungut-sungut mengiyakan
harga yang diminta Bapak.
Bukan hanya
di topi saja. Bapak berani membanting harga di semua penjual yang
dikunjunginya, termasuk toko yang menjual alat mesin. Bahkan, aku tak pernah
bisa menawar harga sampai 50%, antara tak tega, juga kemampuan menawarku yang
jelek.
Ya,
Bapakku memang sangat cuek dan dingin. Tetapi, di balik sifatnya itu, terselip
sikap sayang yang tak akan bisa ditebak bagaimana caranya. Romantis, lucu, dan
tak jarang bikin gemas. Bapak!
-Yunisa Sholikhati
Komentar
Posting Komentar